Senin, 16 November 2009

Bersama Keluargaku Melayani Tuhan



Kami Datang Di Hadirat-Mu
Dalam Satu Kasih, Dengan Bersehati
Berjanji Setia Sampai Akhir
Mengasihi-Mu, Yesus

Reff.
Bersama Keluargaku Melayani Tuhan
Bersatu S'lamanya Mengasihi Engkau
Tiada Yang Dapat Melebihi Kasih-Mu Ya Tuhan
Bagi Kami Engkau Segalanya

Bridge.
Gelombang Badai Hidup
Coba Menghalangi
Namun Kuasa Tuhan
Buka Jalan Kami


Ada yang tau lagu ini?

Ini adalah sepenggal lirik dari lagu yang diciptakan oleh Robert & Lea, pasangan rohani yang melalui karya-karyanya sangat memberkati bagi banyak orang. Judul lagunya "Bersama Keluargaku"

Hmm.. Jujur aja, entah kenapa akhir2 ini lagu ini lagi sering terngiang-ngiang di telinga gue. Padahal, kasetnya udah hilang entah kemana.

Maklum, ini lagu udah beredar, dari jaman gue ga ngerti arti indahnya sebuah lirik lagu (baca: jaman gue kecil banget).

Gue adalah penyuka lagu2 romantis.
Basically, sebenernya lebih tepat menyebut gue sebagai penyuka lirik lagu yang indah. Berhubung lagu romantis itu biasanya kata2nya dalem, makanya gue jadi suka.

Dan entah kenapa, akhir2 ini, gue merasa:

Lagu ini menjadi terdengar lebih romantis dari lagu terromantis yang pernah gue dengar..

In other words, i think, this is the most romantic song i’ve ever heard til today...


Duluuu banget. Saking lamanya, (gue ga gitu yakin tepatnya kapan) mungkin sekitar gue kelas 2-4 SD. Pokonya masih kecil, dan kakak gue udah lumayan mo menuju ke ABG gitu:
Gue bersama keluargaku tercinta menyanyikan lagu ini di gereja.


Tapi, hal2 yang gue tau saat itu hanyalah:

1. gue suka menyanyi
2. lagu ini enak nadanya untuk dinyanyikan.
3. Selain itu, lagu ini pas dinyanyikan utk gue ber4 sekeluarga, berhubung judulnya ada kata keluarga2nya.

Hanya itu.


Bahkan hingga gue mengetik ini, gue masih ingat betul formasi kami berdiri saat menyanyikan lagu itu di gereja..


But..
again..

Umur gue kala itu tidak cukup membuat gue bisa mengerti mengerti makna dibalik sebuah lirik lagu.


Singkat cerita, seiring berjalannya waktu, dan seiring semakin banyaknya lagu2 rohani yang bertaburan, tentunya membuat lagu2 lama semacam lagu ini akan mengendap sesaat.

Apalagi ditambah, lagu ini sifatnya tematik, alias, mengandung tema2 tertentu (ttg keluarga) yang ga bisa sering2 dinyanyiin sebagai lagu penyembahan di gereja.


Tapi entah kenapa, recently, lagu itu seakan mendengung lagi di telinga gue.


As i grow up as a woman today, I start to understand every single meaning of a song… Termasuk lagu ini..


Gue ulang:
Lagu ini menjadi terdengar lebih romantis dari lagu terromantis yang pernah gue dengar..

Gimana engga...

kalo diperhatikan dengan seksama,
lagu ini menyiratkan berbagai hubungan yg terjadi dalam kehidupan manusia.

Hubungan cinta,
hubungan ke Tuhan..
dan yang paling tersurat dan yang paling jelas, adalah...
hubungan dalam keluarga..

Melalui lagu ini, tentunya sedikit banyak akan membawa gue hanyut utk menautkan apa yang terjadi dalam lirik lagu tersebut, dengan apa yang terjadi dalam kehidupan-gue-yang-sebenarnya bersama dengan keluarga gue..


Dan semakin gue denger2 liriknya,
lagu ini bermakna sangat dalam..

dan..

Gue ulang:
Lagu ini menjadi terdengar lebih romantis dari lagu terromantis yang pernah gue dengar..


”Bersama Keluargaku Melayani Tuhan”


This really has a very deep meaning for me..


Dari sejak gue lahir, bersamaan dg bertobatnya bokap melalui kesembuhan dari-Nya atas sakit kepala yg bokap gue pernah alami selama 15 tahun, gue telah berada dalam keluarga yang melayani Tuhan.

(Intermezzoo.. Jangan tanya ke gue sekarang, bagaimana kronologis bokap gue bertobat, bagaimana akhirnya bokap nyokap gue akhirnya bisa sama2 melayani.. bukannya ga mau cerita, tapi kalo diceritain sekarang, bisa2 ga kelar lagi inti cerita dari postingan ini hehe. Soalnya itu sama aja kayak certain history of my church. Hehe.)

Lanjut..

Bagi mereka yg memang lahir dari keluarga yg “menurunkan” atau mendidik anak2nya dalam ajaran agama tertentu, mungkin bisa mengerti bagaimana rasanya jadi gue.


Ada rasa syukur pastinya.

But on the contrary, sebagian mungkin tau rasanya, bahwa:

Karena dari kecil sudah diajarkan ajaran2 yang seperti itu,
sehingga semuanya terkesan menjadi biasa2 saja.

Nothing’s special...

dan semua.. terasa seperti rutinitas dan budaya-keluarga biasa.


Tumbuh dalam keluarga yg melayani Tuhan, waktu kecil, hal yg gue tahu hanyalah, gue setiap sabtu minggu ke Gereja.

Dan melihat bokap nyokap gue ke Gereja di 1 hari lain selain sabtu dan minggu utk doa pekerja, dll, adalah suatu hal yg lazim dan suatu hal yang sangat biasa gue lihat.,

Biasa...

rutin...

nothing’s special…


Ga heran kalo pada akhirnya, saat lagu “Bersama Keluargaku” kami nyanyikan dulu, gue memaknai lagu tersebut hanya sedangkal itu…


Karena memang yg saat itu gue lihat adalah:
"Lagu ini mirip kita ya pi, mi. (dan mirip keluarga semua orang)."


I emphasize: keluarga semua orang.

Di mata gue saat itu adalah keluarga gue ya nothing’s so special.
Sama dengan keluarga2 yang lain.


Keluarga sepupu2 gue...
Keluarga teman2 gue...

sama..


hmm.. Rasanya memang ga heran kalo gue berpikiran seperti itu.


Karena hingga gue SMA, apa yg mata gue lihat tentang keluarga adalah ya sewajarnya keluarga gue.


Sejauh mata gue memandang, gue memiliki teman2 yg memang dari keluarga yg hangat, lengket, dan akrab.
Beberapa darinya juga ke gereja sama2. Bersama dengan keluarga mereka.


Hingga akhirnya, seiring berjalannya waktu, tepatnya saat gue beranjak kuliah, gue merasa seakan gue baru ”melihat dunia yang sebenarnya”.

Honestly, gue bener2 baru “melek”, “ngeh”, “celik”, or -whatever u wanna call it-, bahwa :
betapa seharusnya gue bersyukurrrr atas apa yang selama ini gue miliki.

Termasuk: keluarga.


Gue baru mengerti, bahwa keluarga ini lebih dari biasa.

In other words, my family is special...
even more than special..



Saat gue kuliah, gue baru mengerti, bahwa di luar sana, banyak keluarga yg memiliki problemanya masing2..

dari mulai yg mungkin masalah umum yg selama ini mgkn keluarga gue juga punya, hingga masalah2 yg.. benar2 berat


Banyak di luar sana, keluarga yg belum bisa menyanyikan lagu
“Bersama Keluargaku melayani Tuhan”


Dan hal tersebut baru gue sadari saat kuliah.

Ya...
Baru sekitar 3,5 tahun yang lalu...


Keluarga gue memang masih belum sempurna.

Tapi satu hal yang hingga detik ini gue rasakan banget:

Terima Kasih Tuhan, telah memberikanku orangtua yang mengajarkanku untuk berjalan dalam jalan-Mu..
Terima Kasih Tuhan, telah memberikanku keluarga yang begitu mengasihiku dan Engkau..

Dan terlebih,

Terima Kasih, Tuhan, telah membuatku bisa menyanyikan lagu ”Bersama Keluargaku” sejak dulu...


Seiring gue bertumbuh dewasa, pada intinya gue mulai mengerti,
ternyata konflik2 keluarga yang ada dalam sinetron, pada kenyataannya benar2 ada.

Gue mendengar berbagai kesaksian dari mereka yang tumbuh dan bergumul untuk keluarganya..

Banyak yang jatuh bangun..
Banyak yang bangun lalu jatuh.. dan belum bangun2..

Banyak dari mereka yg harus berjuang ”sendiri” utk mengerti ajaranNya dan jalanNya,
tanpa bimbingan dari keluarganya..

And many more..

Berbeda dengan gue,

Yang sejak gue kecil, gue diajarkan, kalo mau sesuatu, ya berdoa.

Sejak gue kecil, gue diajarkan, kalo gue dijahatin orang, ya berdoa juga, dan jangan balas dengan kejahatan.

Sejak gue kecil, gue diajarkan, kalo gue nemu duit, even cuma 25 perak dan even cuma krn alasan 'iseng doank', jangan diambil, karena nanti2nya bukan ga mungkin kamu malah kehilangan duit lima ribu rupiah (pas gede baru ngerti, ini hukum tabur tuai namanya).

Sejak gue kecil, gue diajarkan, hal kecil apapun yang gue terima, itu harus disyukuri...

Sejak gue kecil, gue diajarkan, kalo gue lagi ada dalam masalah, ya berdoa dan berserah.


Dan banyak hal lagi.


Bagi gue, awalnya gue pikir ini hal yang biasa.

Norma2 moral yg mungkin lazim dan umum diketahui..


Tapi, gue bersyukur bahwa sepanjang gue hidup, gue diajarkan.

Gue tidak belajar sendiri.
Gue tidak berjuang sendiri.

Tapi gue dibimbing.

Diajarkan utk menjalani kehidupan sesuai dengan ajaranNya,
bersama dengan keluarga gue..


Gue ga bisa bayangin andai keluarga gue tidak mengajarkan gue..

Mungkin gue seperti ayam yang kehilangan induknya,
dimana gue harus survive “sendirian” pada saat gue sedang mengalami suka duka.


Andai gue tidak diajarkan, mungkin kalo gue mau sesuatu, gue bisa merampok.

Andai gue tidak diajarkan, kalo gue dijahatin orang, gue bakalan bales!
Karena tidak ada kasih yang diajarkan dan dipupuk ke dalam diri gue..


Andai gue tidak diajarkan, kalo gue nemu duit ato barang nganggur, mungkin mudah bagi gue utk tanpa dosa mengambilnya, selama ga ada yang ngeliat gue ngambil.

Andai gue tidak diajarkan, mungkin kalo dikasih barang kecil dan sepele, gue akan mengeluh.

Andai gue tidak diajarkan, kalo gue lagi ada dalam masalah, gue mungkin akan kehilangan arah, putus asa, rusak, dan... hancur!


Hal yg terakir yg gue sebut adalah hal yg sangat gue rasakan perbedaannya...

Baik gue lihat sendiri, maupun dari kesaksian sana sini,
gue sadar, banyak dari mereka yang benar2 kehilangan arah.

Dan dalam menghadapi masalah, mereka bisa menjadi orang yang sangat desperado..
menjadi orang yang sulit percaya adanya kekuatan sebuah doa..

Gue bersyukur, apa yg orangtua gue ajarkan kepada gue tidak kembali dengan sia2.

Masalah demi masalah datang,
dan gue bersyukur,
karena kini gue bisa mengerti,
kemana dan bagaimana gue harus melangkah.


Gue ga bilang, bokap nyokap gue bisa ngasih solusi atas semua masalah gue.
Dan gue pun ga bilang, kalo gue bisa ngehadapin masalah itu dengan mudah.

Tapi paling ngga,
Gue mengerti,
kemana dan bagaimana harus menghadapi masalah itu: pray and surrender!

Berdoa dan Berserah...


Sounds classic?
Mungkin.


Sebagian orang cuma menganggap,
kalimat: “doain ya” atau ”doain aja deh”
sebagai hal yang biasa.


Ibarat rumus matematika dasar, orang2 udah tau:

1 + 1 = 2.

1 Masalah + 1 Masalah = 1 Doa & 1 Berserah


Orang pun hafal:

Pengen sesuatu : doa!
Ada masalah: doa!


Tapi mereka yg hafal bukan berarti percaya sepenuhnya akan rumus ini.



Hampir 4/5 hidup gue (terhitung-hingga-umur-gue-sekarang),
gue pun hanya sekadar menghafal rumus tersebut.


Ampe akirnya, kini gue bener2 bisa menyerapi rumus itu.

Rumus yang keluarga gue ajarkan.


Sama halnya dengan gue yang baru bener2 bisa menyerapi lagu ”Bersama Keluargaku”

:-)


Gue inget, beberapa tahun yang lalu.

Mungkin saat gue SMP-SMA.

Saat bulan2 Desember..
Saat Natalan.


Dimana pada tahun tertentu, gue inget, gue pernah ikut natal ampe 9 kali !!!
(Termasuk natal di gereja gue, di sekolah, natal pelayan injil, serta natal kunjungan balasan ke gereja2 lainnya.)


Yang gue tau saat itu adalah:

"gue ngikut aja kemana bokap nyokap gue pergi.
Bokap nyokap gue ngajakin.
Berhubung gue ga ada acara juga,
jadi ya gue ngikut aja."

Lagipula pikiran lainnya gue saat itu. "Gue harus ikut, kalo ga ortu gue bakal marah."
(Padahal ternyata, gue ga ikut juga mah boleh. Haha.)


Lanjut.


Dari sekian banyak gue dan keluarga gue natalan itu,
di salah satu Gereja-yang-kami-kunjungi,
kami diminta kasih persembahan pujian (baca: nyanyi).

Bokap pas abis kotbah.
Lalu gue dan bonyok nyanyi,
diiringi cici gue maen keyboard.


Kelar kebaktian, salah seorang pendeta, berbicara kepada kami:
“Wah maju terus dalam pelayanan, ya. Puji Tuhan sekali, satu keluarga melayani Tuhan”


Saat itu respon gue ya cuma senyum2 saja.

(Ga mungkin donk gue bilang: “iya donk om, shera gitu loh”
Huaha. Maaf. Saya kalo narsis cuma ke teman2, ga ke om tante. Huahaha.)


Lanjut.


Tapi entah pernyataan pendeta itu tetep bisa gue ingat sampe sekarang..
Yeah... Perkataan itu begitu membekas..


Meskipunnn sejujurnya, tetap, gue masih merasa
yah kyknya wajar2 aja deh kalo sekeluarga melayani Tuhan.”

Ya..
Wajar...

Karena ini hal yang biasa gue jalankan dari kecil.


Lagian, gue pikir juga
"Mungkin pak pendeta itu cuma basa basi aja membuat pernyataan itu. Sekalian bilang makasih, sekalian bilang hal itu."


Tapi...

By the times flied away...


Setiap kali gue dan keluarga gue mempersembahkan lagu pujian di gereja tertentu,
atau, undang pendeta ke gereja gue,
kalimat itu menjadi semakin sering gue dengar.
Dari orang-orang yang berbeda..

Ya...
Kalimat, “Puji Tuhan ya, sekeluarga melayani Tuhan.”

Kalimat yang sama, dari orang yang berbeda-beda...

Hal itu membuat gue akhirnya berpikir,
"kenapa banyak orang yg mengucapkan hal itu kepada keluarga gue?"



Gue mengganggap itu hal yang biasa.
Tapi orang lain mengganggap itu hal yg ... sepertinya wah...


Hingga akhirnya di suatu titik, gue mengerti akan hal ini.



Suatu hal yang gue mengerti,
namun sulit rasanya bagi gue utk menjelaskan apa yg gue mengerti tersebut..


Yang jelas, i thank God for making us someone who could complete each other in serving Him..


Terlepas dari begitu bangganya gue memiliki sosok seorang ayah seperti beliau, di mata gue,
my daddy is good in preaching..

Dan bagi gue lagi, my mom is good in saying words in prayer.

Terlepas dari gue percaya banget ttg: pada saat doa, God lihat hati kita –bukan kata2nya-,
tapi jujur gue akui: gue orang yg kurang bisa berdoa dengan kata2 yg indah, runtun, dan sedap didengar.

But my mom does it!

Kadang gue denger kata2 yg nyokap gue katakan di doa tuh bener2 kayak puisi.
Hmm.. bukan puisi sih.
Tapi enak di denger deh pokonya.
Bagus utk mimpin doa.

Dan gue lagi2 akuin,
nyokap gue beserta cici2 dan adik perempuannya are really good in it..


Sedangkan gue dan cici gue. Sejak gue kecil, gue dan dia sama2 suka musik dan menyanyi. Bedanya, seiring berjalannya waktu gue lebih sering denger dia main musik daripada nyanyi. Dan sebaliknya, gue lebih senang menyanyi ketimbang main musik.


See now?

If we’re combined as one, it becomes a family which contains preacher, prayer, musician, and singer.


Kombinasi yang -bagi gue- sangat indah dan "pas" utk bisa melayani-Nya.

And thank God for making us someone who could complete each other in serving You..!

Inilah hal yang gue beberapa tahun belakangan ini baru gue sadari…

Dan… gue bersyukur akan hal ini.



Di tempat dimana kami melayani-Nya dari dulu hingga sekarang ini,
adalah “rumah” kami yang bisa menyatukan kami selain di rumah-kami-yg-sesungguhnya.


Seiring berjalannya waktu, cici gue telah menikah, dan gue pun pada akhirnya nanti juga akan menikah.

How lucky... walo udah pada misah rumah, gue yakin:
gue, bersama keluarga gue yang sekarang dan yang akan datang,
pasti akan tetap memiliki quality time.

Minimal, time utk bertemu.

Karena di sanalah, bersama keluargaku, kami melayani Tuhan!



Belum lama ini, gue seneng banget, akhirnya gue kembali menjejakkan kaki ke negeri singa-bertubuh-ikan yg-dari-sekian-belas-tahun-gue-ke-sana, tu singa muntah ga-kelar2 ampe-pertengahan-september-kemarin-gue-liat-ke-sana-lagi, (baca: ke singapur), hehe.


Dan di sana, gue, ipar, cici, dan sepupu gue, tenggelam ke dalam obrolan seru seputar... cinta… Pandangan ttg hubungan cinta (love relationship) secara umum, bukan spesifik.


Hmm.. gue sejujurnya senang kalo tukar pikiran dengan ipar gue, karena kalo dipikir2, emang sedikit banyak prinsip2 gue ttg suatu relationship itu dipengaruhi oleh bokap gue dari sisi rohani, dan ipar gue dari sisi logical..

Dari sekian banyak omongan, ada satu hal yang gue ingat dan baru gue ketahui, bahwa:

ipar gue cerita:
Duluuu, he wished and hoped kalo dia ingin seperti pasangan Robert & Lea.
Spesifiknya, i guess, he wants someone who is be able to play music instrument too.


Gue ga ngerti se-wish dan se-hope apa kk gue kala itu.

But the fact that i can see now is: they are!


In other words, they’re now a couple of musician and they’re good in singing..!
Moreover, he and my family serve Him
together!

Hal ini pada akhirnya membawa gue ke dalam suatu wish dan hope yang hampir sama:


Gue ingin menjadi seperti lagu yang dibawakan oleh Robert & Lea.
“Bersama Keluargaku Melayani Tuhan”



Gue ingin keluarga yang gue bina dan gue bentuk dan gue bina nanti,
is a blessed and a blessing family.


Gue ingin punya keluarga yang diberkati dan keluarga yang memberkati.

Bagi gue, God adalah “Warisan” terindah yang orang tua gue udah kasih ke gue (Mzm16:5a). Dan sebagaimana orang tua gue telah memberikan Hadiah Terbaik utk diri gue,
gue pun ingin mewariskan Warisan gue itu kepada anak-anak gue...


Sebagaimana nyokap bersama dengan bokap gue telah mengajarkan anak-anaknya untuk berjalan dalam jalanNya,
begitupun gue, bersama dengan suami gue nanti, ingin mengajarkan kepada anak-anak gue untuk berjalan dalam jalanNya,


Sebagaimana gue telah dan pernah menyanyikan lagu “Bersama Keluargaku Melayani Tuhan” dengan bokap, nyokap, dan cici gue,
begitupun gue sebagai nyokap, suami gue sebagai bokap, serta anak2 gue, bisa benar2 sama2 meresapi dan merasakan apa yg diceritakan dalam lagu-paling-romantis tersebut.

Gue sungguh ingin mengulang kisah lagu itu dalam keluarga-baru gue.

Gue sungguh ingin membuat anak-anak gue nanti juga merasakan lagu itu, hingga akhirnya, -sama seperti gue- , mereka pun kembali ingin mengulang kisah lagu itu dalam keluarga-baru mereka,

dan begitu seterusnya..


Tuhan, aku ingin seperti lagu Robert & Lea…

Bersama Keluargaku Melayani Tuhan...
Bersatu S’lamanya Mengasihiku Engkau..

This is My Prayer, Lord..

Ini Doaku..
Ini Harapanku..

:-)

Thanks Dad, Mom, Sis, Bro, Sha, Baby, & My family-wannabe…

Never weary in serving Him, all…
Dont let anything separate us in serving Him together...

Karena inilah harapanku.. dan doaku..

Bantu aku mewujudkannya..
Love you, wijayaz :-)



Thanks Jesus,

I will never forget my Re-commitment (link)

people may go away,
i decide to stay...

Selama ku hidup.
Sampai akhir nafasku.
Hingga tutup usiaku.

Bagi Kami, Engkau Segalanya..


GBU,
She

2 komentar:

Helen mengatakan...

sher,gw sangat berharap semua anak (mo anak-anak menuju remaja, mo remaja, mo ud brasa tua karna ud punya anak sekalipun) yang orang tuanya melayani Tuhan dan mengajarkan anaknya untuk melayani Tuhan, BERSYUKUR atas anugerah Tuhan yang begitu besaaaaar seperti itu. Dan gw mau bilang PUJI TUHAN karena seorang Shera udah bersyukur. Memang kenyataan sher, anak2 yg org tuanya melayani Tuhan kebanyakan mrasa biasa aj, malah bosen ke gereja sm ortu, males pelayanan sama ortu, males doa bareng keluarga, pokoknya gak ada rasa syukur. And they should know how I feel. Gw SANGAT mengharapkan hari itu tiba. Hari di mana gw melayani sama ortu, hari di mana gw doa bareng ortu, hari di mana gw liat mereka berserah pada setiap kondisi ke Tuhan dan hanya Dia. And I'm still praying for that day.. Dalam situasi ini, Puji Tuhan, gw tetap bisa bersyukur karena gw ingat janji Tuhan iya dan amin. Gw pegang sungguh2 janji Tuhan akan menyelamatkan seisi rumah gw krn ada gw yg percaya di dalam rumah ini. Thank You o Jesus..

L3ey bgtzz... mengatakan...

hahay..gw juga baru semalam inget ada lagu ini gegara pacar nyanyiin pas lagi nyetir..gw selalu berharap keluarga gw, keluarga pacar dan keluarga masa depan kami entar,,bisa bersama-sama melayani Tuhan Yesus dlm situasi apapun..amin